1.
Biografi
Imam al-Ghazali
Imam
al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi
di bandat Thus, Khurasan (Iran). Salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar
beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al
Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i (lahir 1058 di Thus, Propinsi Khurasan, Persia
(Iran), wafat 1111, Thus) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang
dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Gelar ayahnya yang
bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di
Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar asy-Syafi’i menunjukkan bahwa beliau
bermazhab Syafi’i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai
cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali
adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang
banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Ia pernah memegang
jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di
Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505
Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di
tempat kelahirannya.
Sifat Pribadi Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat
dan bijak berhujjah. Ia digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia
sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan
pusat kebesaran Islam. Ia berjaya menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia juga sanggup meninggalkan
segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengembara serta meninggalkan
kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum beliau memulaikan
pengembaraan, beliau telah mempelajari karya ahli sufi ternama seperti
al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama
10 tahun. Ia telah mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas
seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Ia terkenal sebagai ahli
filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil
karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi beliau telah dididik
dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan beliau benci kepada sifat riya,
megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat
beribadat, wara, zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan
dan mencari sesuatu untuk mendapat ridho Allah SWT.
Pendidikan Al-Ghazali Pada tingkat dasar, beliau mendapat
pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan
keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau
menguasai Bahasa Arab dan Persia dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang
mendalam terhadap ilmu, beliau mulai mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq,
usul fiqih, filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga
mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu,
beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu
fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab
Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi maha guru
di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri)
di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib
Kanselor di sana. Ia telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah,
Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk
mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, beliau menulis
kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan
pemikiran manusia dalam semua masalah.
Karya-Karya Al-Ghazali
1.
Teologi
:
·
Al-Munqidh
min adh-Dhalal.
·
Al-Iqtishad
fi al-I`tiqad.
·
Al-Risalah
al-Qudsiyyah.
·
Kitab
al-Arba’in fi Ushul ad-Din.
·
Mizan
al-Amal.
·
Ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah.
2.
Tasawuf
:
·
Ihya
Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama), merupakan karyanya yang terkenal.
·
Kimiya as-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan).
·
Misykah al-Anwar (The Niche of Lights).
3.
Filsafat
:
·
Maqasid
al-Falasifah.
·
Tahafut
al-Falasifah,buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang
kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The
Incoherence of the Incoherence).
4.
Fiqih
:
·
Al-Mushtasfa
min `Ilm al-Ushul.
·
Al-Wajiz.
5.
Logika
:
·
Mi`yar
al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge).
·
al-Qistas
al-Mustaqim (The Just Balance).
·
Mihakk
al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic).
2. Pemikiran al-Ghazali Tentang
Pendidikan
Sistem pendidikan al-Ghazali sangat dipengaruhi luasnya ilmu
pengetahuan yang dikuasainya, sehingga dijuluki filosof yang ahli tasawuf
(Failasuf al-Mutasawwifin) Dua corak ilmu yang telah terpadu dalam dirinya itu
kemudian turut mempengaruhi formulasi komponen-komponen dalam sistem
pendidikannya.
Ciri khas sistem pendidikannya al-Ghazali sebenarnya
terletak pada pengajaran moral religious dengan tanpa mengabaikan urusan dunia.
Adapun beberapa Konsep
pendidikan yang diberikan oleh Al-Ghazali meliputi :
1.
Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut al-Ghazali harus mengarah kepada
realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan
keutamaan dan taqorrub kepada Allah dan bukan untuk mencari kedudukan yang
tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Sebab jika tujuan pendidikan diarahkan
selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan menyebabkan kesesatan dan
kemudharatan, Al-Ghazali berkata :
“Hasil
dari ilmu sesungguhnya ialah mendekatkan diri kepada Allah, dan menghubungkan
diri dengan para malaikat yang tinggi dan bergaul dengan alam arwah, itu semua
adalah kebebasan, pengaruh pemerintahan bagi raja-raja dan penghormatan secara
naluri”.
Menurut al-Ghazali, pendekatan diri
kepada Allah merupakan tujuan pendidikan. Orang dapat mendekatkan diri kepada
Allah hanya setelah memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu tidak
akan diperoleh kecuali melalui pengajaran. Selanjutnya, dari kata-kata tersebut
dapat difahami bahwa menuru al-Ghazali tujuan pendidikan dapat dibagi menjadi 2
yaitu tujuan jangka panjang dan pendek.
a.
Tujuan
Pendidikan Jangka Panjang
Tujuan Pendidikan Jangka Panjang adalah mendekatkan diri
kepada Allah, pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju
pengenalan dan kemudian pendekatan diri kepada Allah. Menurut konsep ini, dapat
dinyatakan bahwa semakin lama seseorang duduk dibangku pendidikan, semakin
bertambah ilmu pengetahuannya, maka semakin mendekat kepada Allah.
Tentu saja untuk mewujudkan hal itu bukanlah sistem
pendidikan yang memisahkan ilmu-ilmu keduniaan dari nilai-nilai kebenaran dan
sikap religius, tetapi sistem pendidikan yang memadukan keduanya secara
integral. Sistem inilah yang mampu membentuk manusia yang mampu melaksanakan
tugas-tugas kekhalifahan dan sistem pemdidikan al-Ghazali mengarah kesana.
b.
Tujuan
Pendidikan Jangka Pendek
Tujuan pendidikan jangka pendek adalah diraihnya profesi
manusia sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Syarat untuk mencapai tujuan itu
adalah, manusia mengembangkan ilmu pengetahuan baik yang fardu ‘ain maupun
fardu kifayah.
Kesimpulan tujuan pendidikan menurut al-Ghazali :
1) Mendekatkan diri kepada Allah yang
wujudnya adalah kemampuan dan dengan kesadaran diri melaksanakan ibadah wajib
dan sunnah.
2) Menggali dan mengembangkan potensi
atau fitrah manusia.
3) Mewujudkan profesionalisasi manusia
untuk mengemban tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya.
4) Membentuk manusia yang berakhlak
mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela.
5) Mengembangkan sifat-sifat manusia
yang utama sehingga menjadi manusia yang manisiawi.
2. Kurikulum
Pendidikan
Pandangan
al-Ghazali terhadap kurikulum dapat dilihat dari pandangan mengenai tentang
ilmu pengetahuan. Kurikulum pendidikan yang disusun al-Ghazali sesuai
pandanganya mengenai tujuan pendidikan yakni mendekatkan diri kepada Allah yang
merupakan tolak ukur manusia. Untuk menuju kesana diperlukan ilmu pengetahuan.
Mengurai kurikulum pendidikan menurut al-Ghazali,
ada dua hal yang menarik bagi kita. Pertama,
pengklasifikasian terhadap ilmu pengetahuan yang sangat terperinci yang segala
aspek yang terkait dengannya. Kedua,
pemikiran tentang manusia dengan segala potensi yang dibawanya sejak lahir.
Semua manusia esensinya sama. Ia sudah kenal
betul dengan pencipta sehingga selalu mendekat padanya dan itu tidak akan
berubah. Al-Ghazali mengklasifikasikan manusia adalah pribadi yang satu yang
tidak dapat disamakan dengan pribadi yang lain. Tingkat pemahaman, daya
tangkap, dan daya ingatnya terhadap ilmu pengetahuan, kemampuan menjalankan
tugas hidupnya berbeda antara orang yang satu dengan yang lain.
Oleh karena itu dalam kaitannya dengan
kurikulum al-Ghazali mendasarkan pemikiranya bahwa kurikulum pendidikan harus
disusun dan selanjutnya disampaikan kepada murid sesuai dengan pertumbuhan dan
perkembangan psikisnya.
Selanjutnya
al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan dari beberapa sudut pandang, yaitu :
a.
Berdasarkan
pembidangan ilmu
Berdasarkan pembidangan ilmu dibagi menjadi dua bidang,
yaitu yang pertama ilmu syari’ah
sebagai ilmu terpuji terdiri atas ilmu ushul, ilmu furu’, ilmu pengantar,
muqoddimah, dan ilmu pelengkap. Yang kedua yaitu ilmu yang bukan ilmu syari’ah, terdiri dari ilmu kedokteran, ilmu
hitung, pertanian, pembangunan, tata pemerintahan, industri, kebudayaan,
sastra, ilmu tenun dan pengolahyan pangan.
b.
Berdasarkan
objek
Ilmu dibagi atas tiga kelompok, yaitu :
1) Ilmu pengetahuan yang tercela secara
mutlak baik sedikit ,maupun banyak. Seperti, sihir, azimat, dan ilmu tentang
ramalan nasib.
2) Ilmu pengetahuan yang terpuji.
Seperti ilmu agama, dan ilmu tentang beribadat.
3) Ilmu pengetahuan yang dalam kadar
tertentu terpuji tapi jika mendalaminya tercela. Seperti dari filsafat
naturalisme. Menurut al-Ghazali ilmu tersebut juga diperdalam akan menimbulkan
kekacauan fikiran dan keraguan, sehingga mendorong manusia kepada kufur dan
ingkar.
c.
Berdasarkan
status hukum mempelajarinya yang terkait dengan nilai guna
Dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1) fardu ain, yang wajib dipelajari
setiap individu misalkan ilmu agama dan cabang-cabangnya.
2) fardu kifayah, yaitu ilmu yang tidak
diwajibkan pada setiap muslim tetapi harus ada diantara orang muslim yang
mempelajarinya. Misalkan ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, politik, dan
pengobatan tradisional.
3. Pendidik
Dalam hal ini al-Ghazali berkata :
“Makhluk
yang paling mulia di muka bumi adalah manusia. Sedangkan yang paling mulia
penampilanya ialah kalbunya. Guru atau pengajar selalu menyempurnakan,
mengagungkan dan mensucikan kalbu itu serta menuntutnya untuk dekat kepada
Allah”.
Dia juga berkata ;
“Seseorang
yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itu, dialah yang dinamakan
oranng besar dibawah kolong langit ini. Ia bagai matahari yang mencahayai orang
lain, sedangkan ia sendiri pun bercahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya
dinikmati orang lain, ia sendiri pun harum“.
Menurut
al-Ghazali seorang pendidik atau guru harus memiliki beberapa sifat sebagai
berikut :
Bertanggug
jawab.
Sabar.
Duduk
tenang penuh wibawa.
Tidak
sombong terhadap semua orang, kecuali terhadap orang yang dzolim dengan tujuan
untuk menghentikan kedzolimanya.
Mengutamakn
bersikap tawadhu’ di majlis-majlis pertemuan.
Tidak
suka bergurau dan bercanda.
Ramah
terhadap para pelajar.
Teliti
dan setia mengawasi anak yang nakal.
Setia
membimbing anak yang bebal.
Tidak
gampang marah kepada anak yang bebal dan lambat pemikiranya.
Tidak malu untuk mengatakan akan
ketidaktahuannya tentang persoalan yang belum ditekuninya.
Memperhatikan
murid yang bertanya dan berusaha menjawabnya dengan baik.
Manerima
alasan yang diajukan kepadanya.
Tunduk
kepada kebenaran.
Melarang
murid yang mempelajari ilmu yang membahayakan.
Memperingatkan
murid mempelajari ilmu agama tetapi untuk kepentingan selain Allah.
Memperingatkan
murid agar tidak sibuk mempelajari ilmu fardu kifayah sebelum selesai dengan
mempelajari ilmu fardu ‘ain.
Memperbaiki
ketaqwaaanya kepada Allah.
Mempraktekkan
makna taqwa dalam kehidupan sehari-harinya ssebelum memerintahkan kepada murid
agar murid mengikuti perbuatanya dan agar murid mengambil manfaat dari
ucapan-ucapanya.
4.
Peserta didik
Al-Ghazali berkata :
“Seorang
pelajar hendaknya tidak menyobongkan diri dengan ilmunya dan jangan menentang
gurunya. Tetapi menyerah sepenuhnya kepada guru dengan keyakinan kepada segala
nasihatnya sebagaimana seoorang sakit yang bodoh yakin kepada dokter yang ahli
dan berpengalaman. Seharusnya seorang pelajar itu tunduk kepada gurunya,
mengaharap pahala dan kemuliaan dengan tunduk kepadanya.”
Sedangkan
menurut al-Ghazali, peserta didik haruslah sebagai berikut :
Hendaknya
memberi ucapan salam kepada guru terlebih dahulu.
Tidak
banyak bicara di hadapanya.
Tidak
berbicara selagi tidak ditanya gurunya.
Tidak
bertanya sebelum memintya izin terlebih dahulu.
Tidak
menentang ucapan guru dengan ucapan (pendapat) orang lain.
Tidak
menampakkan peetentangannya terhadap pendapat gurunya, apalagi menganggap
diriya lebih pandai dari gurunya.
Tidak
boleh berisik kepada teman yang duduk di sebelahnya ketika guru sedang berada
dalam majlis itu.
Tidak
menoleh-noleh ketika sedang berada di hadapan gurunya, tetapi harus menundukkan
kepala dan tengang seperti dia sedang melakukan shalat.
Tidak
banyak bertanya kepada guru, ketika kondisi guru dalam keadaan letih.
Hendaknya
berdiri ketika gurunya berdiri dan tidak berbicara denganya ketika dia sudah
beranjak dari tempat duduknya.
Tidak
mengajukan pertanyaan kepada guru di tengah perjalananya.
Tidak
berprasangka buruk pada guru ketika ia melakukan perbuatan yang dhohirnya
munkar, sebab dia lebih mengetrahui rahasia (perbuatanya).
5.
Media dan Metode
Metode dan media yang dipergunakan menurut Al-Ghazali harus
dilihat secara psikologis, sosiologis, maupun pragmatis dalam rangka
keberhasilan proses pembelajaran. Metode pengajaran tidak boleh monoton, demikian
pula media atau alat pengajaran.
Perihal kedua masalah ini, banyak sekali pandapat Al-Ghazali
tentang metode dan metode pengajaran. Untuk metode, misalnya menggunakan metode
mujahadah dan riyadhlah, pendidikan praktek kedisiplinan, pembiasaan dan
penyajian dalil naqli dan aqli, serta bimbingan dan nasehat. Sedangkan media /
alat digunakan dalam pengajaran, al-Ghazali menyetujui adanya pujian dan
hukuman, di samping keharusan menciptakan kondisi yang mendukung terwujudnya
akhlak yang mulia.
6. Proses
Pembelajaran
Al-Ghazali mengajukan konsep pengintegrasian antara materi,
metode dan media atau alat pengajarannya. Seluruh komponen tersebut harus
diupayakan semaksimal mungkin, sehinggga dapat menumbuhkembangkan segala
potensi fitrah anak, baik dalam hal usia, intelegensi, maupun minat dan
bakatnya. Jangan sampai anak diberi materi materi pengajaran yang justru
merusak akidah dan akhlaknya. Anak yang dalam kondisi taraf akalnya belum
matang, hendaknya diberi materi pengajaran yang dapat mengarahkan kepada akhlak
yang mulia. Adapun ilmu yang paling baik diberikan pada tahap pertama ialah
ilmu agama dan syariat, terutama al-Qur’an.
3.
Relevensi
Pandangan Al-Ghazali Bagi Kebutuhan Pengembangan Pendidikan Islam Dewasa Ini
Ismail Razi al-Faruqi mengemukakan bahwa inti masalah yang
dihadapi umat Islam dewasa ini adalah masalah pendidikan dan tugas terberatnya
adalah memecahkan masalah tersebut.
Keberhasilan dan kegagalan suatu proses pendidikan secara
umum dapat dilihat dari outputnya, yakni orang-orang yang menjadi produk
pendidikan. Apabila sebuah proses pendidikan menghasilkan orang-orang yang
bertanggungjawab atas tugas-tugas kemanusiaan dan tugasnya kepada Tuhan,
bertindak lebih bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain, pendidikan
tersebut dapat dikatakan berhasil. Sebaliknya, bila outputnya adalah
orang-orang yang tidak mampu melaksanakan tugas hidupnya, pendidikan tersebut
dianggap gagal.
Ciri-ciri utama dari kegagalan proses pendidikan ialah
manusia-manusia produk-produk pendidikan itu lebih cenderung mencari kerja dari
pada menciptakan lapangan kerja sendiri. Kondisi demikian terlihat dewasa ini,
sehingga lahir berbagai budaya yang tidak sehat bagi masyarakat luas.
Diberbagai media masa telah banyak diungkapkan mengenai
rendahnya mutu pendidikan nasional kita. Keadaan ini mengundang para
cendekiawan mengadakan penelitian yang berkaitan dengan mutu pendidikan.
Berbicara mengenai mutu pendidikan masalahnya menjadi sangat komplek. Oleh
karena itu dapat disadari bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak dapat lepas
dari proses perubahan siswa didalam dirinya. Perubahan yang dimaksud mencakup
dalam pengetahuan, sikap, dan psikomotor.
Berangkat dari kondisi pendidikan kita, seperti telah
dikemukakan di atas, tampak pemikiran al-Ghazali sangat relevan untuk dicoba
diterapkan di Indonesia, yang secara gamblang menawarkan pendidikan akhlak yang
paling diutamakan.
Untuk lebih
jelasnya, sumbangan pemikiran al-Ghazali bagi pengembangan dunia pendidikan
Islam khususnya, dan pendidikan pada umumnya, dapat dikemukakan sebagai
berikut:
1.
Tujuan pendidikan
Dari hasil studi terhadap pemikiran al-Ghazali, diketahui
dengan jelas bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan
yaitu:
a.
Tercapainya
kesempurnaan insan yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah.
b.
Kesempurnaan
insan yang bermuara pada kebahagiaan dunia akhirat.
Pendapat al-Ghazali tersebut disamping bercorak religius
yang merupakan ciri spesifik pendidikan Islam, cenderung untuk membangun aspek
sufistik. Manusia akan sampai kepada tingkat kesempurnaan itu hanya dengan
menguasai sifat keutamaan melalui jalur ilmu. Dengan demikian, modal
kebahagiaan dunia dan akhirat itu tidak lain adalah ilmu.
Secara implisit, al-Ghazali menekankan bahwa tujuan
pendidikan adalah membentuk insan yang paripurna, yakni insan yang tahu
kewajibannya, baik sebagai hamba Allah, maupun sebagai sesama manusia.
Dalam sudut pandang ilmu pendidikan Islam, aspek pendidikan
akal ini harus mendapat perhatian serius. Hal ini dimaksudkan untuk melatih pendidikan
akal manusia agar berfikir dengan baik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rosul-Nya.
Adapun mengenai pendidikan hati seperti dikemukakan Al-Ghazali merupakan suatu
keharusan bagi setiap insan.
Dengan demikian, keberadaan pendidikan bagi manusia yang
meliputi berbagai aspeknya mutlak diperlukan bagi kesempurnaan hidup manusia dalam
upaya membentuk manusia paripurna, berbahagia didunia dan akhirat kelak. Hal ini
berarti bahwa tujuan yang telah ditetapkan oleh imam al-Ghazali memiliki
koherensi yang dominan dengan upaya pendidikan yang melibatkan pembentukan
seluruh aspek pribadi manusia secara utuh.
2.
Materi pendidikan Islam
Imam al-Ghazali telah mengklasifikasikan materi (ilmu) dan
menyusunnya sesuai dengan dengan kebutuhan anak didik juga sesuai dengan nilai
yang diberikan kepadanya. Dengan mempelajari kurikulum tersebut, jelaslah bahwa
ini merupakan kurikulum atau materi yang bersifat universal, yang dapat
dipergunakan untuk segala jenjang pendidikan. Hanya saja al-Ghazali tidak
merincinya sesuai dengan jenjang dan tingkatan anak didik.
Yang menarik adalah hingga hari ini pendidikan Islam
dinegara kita masih jauh terbelakang, dalam arti bahwa pendidikan Islam hari
ini masih membedakan antara ilmu agama (Islam) dan ilmu umum. Corak pembidangan
ilmu itu ternyata berimbas pada orientasi pendirian lembaga pendidikan Islam.
Misalnya setingkat IAIN saja, tercermin bahwa ilmu yang dipelajari ternyata hanya
terbatas di seputar ilmu agama Islam saja dalam arti sesempit-sempitnya.
Sementara pandangan al-Ghazali pada lebih dari seribu tahun yang lalu tidak
membedakan pembidangan ilmu semacam ini di Indonesia pada khususnya dan didunia
Islam pada umumnya.
Untuk menghilangkan kesan dikotomi ilmu, dewasa ini lembaga
pendidikan tinggi Islam milik pemerintah seperti IAIN meningkatkan lembaganya
ketingkat lebih tinggi yakni ketingkat universitas seperti munculnya UIN
Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Bandung dsb.
Jadi relevansi pandangan al-Ghazali dengan kebutuhan
pengembangan dunia pendidikan Islam dewasa ini sangat bertautan dengan tuntutan
saat ini, baik dalam pengertian spesifik maupun secara umum. Secara spesifik
misalnya pengembangan studi akhlak tampak diperlukan dewasa ini. Sangat
disanyangkan, materi ini telah hilang dilembaga-lembaga pendidikan. Jangankan
disekolah yang berlabel umum, disekolah yang berlambang Islam saja bidang studi
yang satu ini sudah tidak ada.
Dengan demikian pula secara umum, pandangan Al-Ghazali
tentang pendidikan Islam tampak perlu dicermati. Keutuhan pandangan Al-Ghazali
tentang Islam misalnya tampak tidak dikotomi seperti sekarang ini, ada ilmu
agama dan ilmu umum, sehingga dari segi kualitas intelektual secara umum umat
Islam jauh tertinggal dari umat yang lain. Hal ini barang kali merupakan salah
satu akibat sempitnya pandangan umat terhadap ilmu pengetahuan yang dikotomi
seperti itu.
3. Metode
pendidikan Islam
Pandangan Al-Ghazali secara spesifik berbicara tentang
metode barang kali tidak ditemukan namun secara umum ditemukan dalam
karya-karyanya. Metode pendidikan agama menurut Al-Ghazali pada prinsipnya
dimulai dengan hafalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan
pembenaran setelah itu penegakkan dalil-dalil dan keterangan yang menunjang
penguatan akidah.
Pendidikan agama kenyataanya lebih sulit dibandingkan dengan
pendidikan lainnya karena, pendidikan agama menyangkut masalah perasaan dan
menitik beratkan pada pembentukan kepribadian murid. Oleh karena itu usaha Al-Ghazali
untuk menerapkan konsep pendidikannya dalam bidang agama dengan menanamkan
akidah sedini mungkin dinilai tepat.
Menurut Al-Ghazali bahwa kebenaran akal atau rasio bersifat
sempurna maka agama bagi murid dijadikan pembimbing akal.
Aplikasi metode pendidikan secara tepat guna, tidak hanya
dilakukan pada saat berlangsungnya proses pendidikan saja, melainkan lebih dari
itu, membina dan melatih fisik dan psikis guru itu sendiri sebagai pelaksana
dari penggunaan metode pendidikan.
Nana Sudjana dan Daeng Arifin mengemukakan bahwa proses pendidikan
akan terjalin dengan baik ketika antara pendidik dan anak didik terjalin
interaksi yang komunikatif.
Dengan demikian prinsip-prinsip penggunaan yang tepat sebagaimana diungkapkan oleh imam Al-Ghazali memiliki relevansi dan koherensi dengan pemikiran nilai-nilai pendidikan kontemporer pada masa kini. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai kependidikan yang digunakan oleh imam Al-Ghazali dapat diterapkan dalam dunia pendidikan dalam dunia global.
Dengan demikian prinsip-prinsip penggunaan yang tepat sebagaimana diungkapkan oleh imam Al-Ghazali memiliki relevansi dan koherensi dengan pemikiran nilai-nilai pendidikan kontemporer pada masa kini. Hal ini berarti bahwa nilai-nilai kependidikan yang digunakan oleh imam Al-Ghazali dapat diterapkan dalam dunia pendidikan dalam dunia global.
No comments:
Post a Comment