Minggu, 17 Maret 2013

Metode Pembelajaran Debat Aktif

Debat Aktif
A.    Pengertian
Membuat pembelajaran yang  menarik dan sekaligus mengaktifkan siswa banyak sekali caranya. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan model debat aktif.
Debat menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) merupakan pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.
Debat merupakan kegiatan bertukar pikiran antara 2 (dua) orang atau lebih yang masing-masing berusaha mempengaruhi orang lain untuk menerima usul yang disampaikan.
Debat adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan. Secara formal, debat banyak dilakukan dalam institusi legislatif seperti parlemen, terutama di negara-negara yang menggunakan sistem oposisi. Dalam hal ini, debat dilakukan menuruti aturan-aturan yang jelas dan hasil dari debat dapat dihasilkan melalui voting atau keputusan juri. Debat adalah suatu diskusi antara dua orang atau lebih yang berbeda pandangan, dimana antara satu pihak dan pihak yang lain saling menyerang.[1]
Debat dapat diartikan pula sebagai silang pendapat tentang tema tertentu antara pihak pendukung dan pihak penyangkal melalui dialog formal yang terorganisasi. Debat yang biasanya diikuti oleh pihak pendukung dan pihak penyangkal dipimpin oleh seorang pemandu (moderator) serta dibatasi oleh waktu dan aturan main. Kedua belah pihak yang berdebat berusaha meyakinkan lawan debat dan pemirsa/pendengar bahwa usul dan argumennya adalah yang paling baik.
Di negara yang telah maju kehidupan demokrasinya bahkan roh demokrasinya telah mendarah daging bagi kehidupan mereka, debat dianggap sebagai tradisi. Kegiatan Debat di negara itu sangat menarik dan mencerdaskan. Contoh kegiatan debat menarik yang tidak pernah dilupakan masyarakat dunia adalah debat kampanye calon presiden di negara Amerika. Debat antara Lincoln dan Douglas pada tahun 1858, debat antara Carter dan Reagen tahun 1980, serta debat John F. Kennedy dan Richard Nixon. Karena keseriusannya merintis kegiatan debat calon presiden di televisi mulai tahun 1961, Kennedy mampu meyakinkan masyarakat Amerika bahkan dunia akan pemikiran serta kemampuannya sehingga Beliau menjadi orator ulung dan pemimpin (presiden). Melalui kegiatan debat yang terorganisir, selain memberikan efek peningkatan kualitas pribadi, debat juga mampu menstimulus dan memberikan pengaruh orang lain bahkan masyarakat yang lebih luas.[2]
Bagaimana membawa suasana debat tersebut di pada jenjang pendidikan. Dimana pelaku debat adalah siswa atau mahasiswa yang belum banyak menguasai konsep atau argumentasi yang kuat untuk mempertahankan pendapatnya?
Strategi pembelajaran  dalam bentuk debat dilakukan dengan memberikan suatu isu yang sedapat mungkin kontroversial sehingga akan terjadi pendapat-pendapat yang berbeda dari siswa/mahasiswa. Dalam mengemukakan pendapat mahasiswa dituntut untuk menggunakan argumentasi yang kuat yang bersumber pada materi-materi kelas. Pengajar harus dapat mengarahkan debat ini pada inti materi pelajaran yang ingin dicapai pemahamannya.[3]
Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Metode Debat merupakan sebuah metode pembelajaran yang dimana siswa terbagi dalam dua kelompok besar ataupun kecil yang terdiri dari pihak yang pro dan kontra untuk beradu menyampaikan pendapat/ tanggapan mereka didalam menghadapi suatu topik masalah yang telah ditentukan. Anggota kelompok juga dapat bertanya kepada peserta debat/pembicara. Metode ini biasa digunakan ketika:
a)      Jika hasil pembicaraan perlu diasah.
b)      Untuk membangkitkan analisa.
c)      Untuk menyampaikan pendapat yang berbeda-beda.
d)     Jika anggota bersedia untuk mendengar kedua segi permasalahan.
e)      Jika kelompok itu besar.
Teknik debat aktif (active debate) adalah cara atau alat untuk mencapai suatu tujuan dalam pembelajaran berbicara dengan cara menyajikan tema kontroversi yang menarik untuk diperdebatkan. Siswa dalam hal ini saling mengungkapkan argumentasi untuk menetapkan baik tidaknya suatu usul tertentu yang didukung oleh satu pihak yang disebut Pro, (pendukung atau afirmatif)  dan ditolak, disangkal oleh pihak lain yang disebut penyangkal atau Kontra (negatif).
Teknik debat aktif dapat mendukung siswa untuk  berani mengomentari, menyanggah, mengkritik sesuai dengan posisi dan peran yang dimainkan. Dalam penerapan teknik debat aktif ini terdapat hal yang berbeda dari prosedur debat konvensional, yaitu siswa akan mengambil posisi yang bertentangan dengan pendapatnya. Selain itu, formasi duduk siswa dikondisikan seperti setengah lingkaran yang di tengahnya terdapat dua juru bicara dari kelompok pro dan kontra yang ditemani oleh dua moderator yang masing-masing memprovokasi kelompok pro dan kontra.
Dalam pembelajaran, penggunaan teknik debat aktif yang lebih mengarah pada prosedur debat kompetitif yaitu debat dalam bentuk permainan yang biasa dilakukan di tingkat sekolah dan universitas. Dalam hal ini, debat dilakukan sebagai pertandingan dengan aturan atau format yang jelas dan ketat antara dua pihak yang masing-masing mendukung dan menentang sebuah pernyataan. Pemenang debat adalah tim yang berhasil menunjukkan pengetahuan dan kemampuan debat yang lebih baik. Tidak seperti debat sebenarnya di parlemen. Penggunaan teknik debat aktif dalam pembelajaran tidak bertujuan untuk menghasilkan keputusan.
Namun, lebih diarahkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan siswa dalam berbicara, dalam hal ini kemampuan siswa yang diarahkan meliputi kemampuan untuk berargumentasi, mendengarkan pendapat yang berbeda, menyanggah, dan menyampaikan kritik.[4] Siswa juga dilatih mengutarakan pendapat/pemikirannya dan bagaimana mempertahankan pendapatnya dengan alasan-alasan  yang logis dan dapat dipertanggung-jawabkan. Bukan berarti siswa diajak saling bermusuhan, melainkan siswa belajar bagaimana menghargai adanya perbedaan.
Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.
B.     Langkah-langkah
Penerapan teknik debat aktif (active debate) dalam pembelajaran di kelas dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1.      Susunlah sebuah pertanyaan yang berisi pendapat tentang isu kontroversial yang terkait dengan mata pelajaran. Sebagai contoh, Bolehkah berpoligami?
2.      Bagilah siswa menjadi dua tim debat. Berikan secara acak posisi “Pro” kepada satu kelompok dan posisi “Kontra” kepada kelompok lain.
3.      Selanjutnya, buatlah du hingga empat sub kelompok dalam masing-masing tim debat. Misalnya, dalam sebuah kelas yang berisi 24 siswa Anda dapat membuat tiga sub kelompok Pro dan tiga sub kelompok kontra, yang masing-masing terdiri dari empat anggota. Perintahkan tiap sub kelompok untuk menyusun argument bagi pendapat yang dipegangnya, atau menyediakan daftar panjang argument yang mungkin akan mereka pilih dan diskusikan. Pada akhir dari diskusi mereka, perintahkan sub kelompok untuk memilih juru bicara.
4.      Tempatkan dua hingga empat kursi (terganung jumlah  dari sub kelompok yang dibuat untuk tiap pihak) bagi para juru bicara dari pihak yang pro dalam  posisi berhadapan dengan jumlah kursi yang sama bagi juru bicara dari pihak yang kontra. Posisikan siswa yang lain di belakang tim debat mereka. Untuk contoh sebelumnya, susunannya akan tampak seperti berikut ini :
X



X
X



X
X



X
X
Pro

Kontra
X
X
Pro

Kontra
X
X
Pro

Kontra
X
X



X
X



X
X



X
Mulailah “debat” dengan meminta para juru bicara mengemukakan pendapat mereka. Sebutlah proses ini sebagai “argument pembuka”
5.      Setelah semua siswa mendengarkan argument pembuka, hentikan debat dan perintahkan mereka kembali ke sub kelompok awal mereka. Perintahkan sub-sub kelompok untuk menyusun strategi dalam rangka mengkomentari argument pembuka dari pihak lawan. Sekali lagi, perintahkan tiap sub kelompok memilih juru bicara, akan lebih baik bila menggunakan orang baru.
6.      Kembali ke dalam debat. Perintahkan para juru bicara, yang duduk berhadap-hadapan, untuk memberikan “argument tandingan”. Ketika debat berlanjut (pastikan untuk menyelang-nyeling antara kedua belah pihak), anjurkan siswa lain untuk memberikan catatan yang memuat argument tandingan atau bantahan kepada pendebat mereka. Juga, anjurkan mereka untuk memberi tepuk tangan atas argumen yang disampaikan oleh perwakilan tim debat mereka.
7.      Apabila dianggap perdebatannya sudah cukup, maka akhirilah debat tanpa menyebutkan pemenangnya, perintahkan sisswa untuk kembali berkumpul membentuk satu lingkaran. Pastikan untuk mengumpulkan siswa dengan meminta mereka duduk bersebelahan dengan siswa yang berasal dari pihak lawan debatnya.  Lakukan diskusi dalam satu kelas penuh tentang apa yang didapatkan oleh siswa dari persoalan yang diperdebatkan. Juga perintahkan siswa untuk mengenali apa yang menurut mereka merupakan argument terbaik yang dikemukakan oleh kedua belah pihak.[5]
8.      Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap.
9.      Guru mengajak siswa membuat kesimpulan atau rangkuman yang mengacu pada topik yang ingin dicapai.[6]
Variasi
1.      Tambahkanlah satu atau beberapa kursi kosong bagi tim-tim debat. Ijinkan siswa untuk menempati kursi-kursi kosong itu manakala mereka ingin turut berdebat.
2.      Mulailah segera kegiatan ini dengan argumen pembuka perdebatan. Lakukanlah dengan debat konvensional, namun sering-seringlah menggilir para pendebatnya.
Sedangkan menurut Sanaky, Penerapan strategi pembelajaran Debat Aktif (Active Debate), dengan langkah-langkah atau prosedur yang dilakukan, sebagai berikut:
a.       Materi kuliah telah diberikan kepada mahasiswa 1 (satu) minggu sebelum perkuliahan. Mahasiswa diharuskan untuk membaca dan memahami materi ini agar memudahkan dalam “debat”.
b.      Dalam kegiatan “debat”, kelas dibagi menjadi 5 [lima] kelompok. Secara acak akan ditugaskan, yaitu:
1)      kelompok pertama ditetapkan sebagai penyaji
2)      kelompok kedua dan ketiga ditentukan sebagai “kontra” atau “penyangga”
3)      kelompok keempat sebagai “pembela” kelompok pertama
4)      kelompok kelima sebagai “penengah”.
Masing-masing kelompok terdiri 10 (sepuluh) mahasiswa atau lebih.
c.       Sebelum debat dimulai, dosen menyajikan  “global materi”  kuliah yang akan didebatkan kepada mahasiswa dalam bentuk ceramah.
d.      Sebelum debat dilaksanakan, mintalah masing-masing kelompok menetukan “juru bicaranya” dan kemudian mintalah tiap-tiap kelompok mendikusikan materi pada kelompoknya sendiri dan merumuskan arguman-argumen dari hasil diskusinya.
e.       Setelah masing-masing kelompok telah selesai mediskusikan materi tersebut dan telah menemukan problem atau masalah untuk disampaikan. Diskusi dihentikan dan setting kelas dibuat dalam situasi yang berbeda. Setting kelas sebagai berikut :






f.       Mulailah “perdebatan” dan dalam “perdebatan” ini dosen bertindak sebagai pemandu. Langkah pertama, perintahkanlah “juru bicara” dari kelompok “penyaji” untuk menyampaikan argumen-argumennya. Langkah kedua, meminta  kelompok kontra (2 dan 3) meberikan atau menyampaikan “konter argumentasinya”  dan buatlah situasi debat anatar “penyaji” dengan “kontra” dan sesekali meminta argumentasi dari kelompok “penengah”. Langkah ketiga, mintalah kolompok “pembela” untuk menyampaikan argumentasi pembelaannya dan buatlah situasi debat antara kelompok kontra dengan kelompok “pembela” dan sesekali meminta argumentasi dari kelompok “penengah”.  Doronglah peserta yang lain untuk mencatat  jawaban berbagai argumen atau bantahan yang disarankan kepada juru bicaranya. Juga, doronglah mereka untuk sesekali menyambut dengan applaus terhadap argumen-argunen dari wakil atau juru bicara tim mereka.
g.      Ketika dianggap perdebatannya sudah cukup, akhiri perdebatan tersebut dan gambungkan kembali seluruh kelompok tersebut dalam lingkaran penuh. Kemudian disimpulkan dan berilah komentar tentang permasalah yang diajukan dalam perdebatan tersebut serta buatlah diskusi seluruh kelas tentang apa yang telah dipelajai oleh mahasiswa tentang persoalan dari pengalaman debat itu dan kemudian rumuskan argumen-argumen terbaik yang dibuat kedua kelompok (“penyaji” dan “kontra”) debat tersebut. Sebelum menutup perkuliahan, doronglah semua mahasiswa untuk menyambut dengan applaus atas “debat” yang telah dilakukan, setelah itu tutup kuliah dengan membaca do’a.[7]
C.    Deskripsi
Berikut ini merupakan gambaran atau deskripsi pelaksanaan strategi pembelajaran Debat Aktif, yaitu:
Pembukaan
Guru menyampaikan presepsi dan motivasi tentang materi pelajaran terdahulu. Kemudian guru memotivasi para siswa pentingnya materi yang akan dipelajari serta memberi contoh yang berhubungan dengan materi ajar.
Kegiatan Pokok
Guru menulis tujuan pembelajaran tentang ‘materi yang akan dibahas’ kemudian menjelaskan bahan belajar tersebut. Guru memberikan beberapa contoh tindakan poligami. Siswa membuat contoh lainnya.
Guru membuat sebuah pernyataan yang kontroversi terhadap materi yang telah disampaikan yaitu adanya “bolehkah poligami?”. Beberapa siswa diminta pendapatnya hingga teridentifikasi ada 2 pendapat, yaitu pendapat yang setuju dan tidak setuju dengan poligami. Kemudian guru membagi kelas menjadi 2 kelompok. Satu kelompok sebagai kelompok “PRO” atau pendukung pernyataan setuju, sementara satu kelompok yang lain adalah sebagai kelompok KONTRA atau kelompok yang menolak pernyataan tersebut atau tidak setuju.
 Guru memandu debat antara kelompok setuju dan tidak setuju terhadap poligami. Masing-masing kelompok memberikan alasan secara terbuka dan kelompok lain dapat membantah atau memberikan alasan yang bertentangan.
Debat diakhiri dengan menunjukkan alasan dan pertimbangan masing-masing kelompok mengapa setuju dan tidak setuju terhadap poligami. Guru memberi penguatan terhadap hasil debat yang berbesda tersebut.
Penutup
Guru bersama siswa menyimpulkan materi pelajaran. Guru menutup pelajaran dan menugaskan siswa mencatat tugas.


[3] T.M.A. Ari Samadhi, Pembelajaran Aktif (Active Learning). Dalam makalah teaching improvement workshop. Engineering education development project ADB Loan No. 1432-INO. hlm 48
[4] Melvin L.Silberman, 2006. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusa Media. Hlm, 127-129
[5] Melvin L. SIlberman. 2011.Active learning : 101 Cara  Belajar Siswa Aktif. Nusamedia, Bandung:, hlm 141-142.
[7] Hujair AH. Sanaky. Metode Dan Strategi  Pembelajaran  Berorientasi Pada Pemberdayaan Peserta Didik. Dalam makalah active learning. www.sanaky.com diakses 12 January 2012

Poskan Komentar

Ditulis Oleh : Jayantoni ~ JAYMIND MY DREAMS

Artikel dalam blog ini diposting oleh jayantoni. Terimakasih atas kunjungan sobat serta kesediaan Anda membaca artikel ini.Tinggalkanlah komentar baik itu kritik ataupun saran karena komentar anda sangat berarti bagi penulis demi perkembangan blog ini.

Kalkulator CINTA

Yang Mau Cek Kekuatan Cinta, Silahkan Cek Cinta Pasangan Anda Dibawah Hi..hi..!!