Selasa, 05 Maret 2013

Definisi, proses, teori-teori belajar

A.    Pengertian Belajar
Belajar adalah sesuatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyaakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.[1]
Adapun beberapa definisi lain tentang belajar yang dikemukakan oleh ahli pendidik modern yaitu:
a)      Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of learning (1975) mengemukan bahwa, “ Belajar behubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam suatu situasi, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar cenderung respon pembawaan,kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang.”
b)      Gagne, dalam buku The Conditions of Learning (1977) menyatakan bahwa,” Belajar terjadi apabila sesuatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performancenya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
c)      Morgan dalam buku Introduction of Psychology (1978) mengemukan bahwa,” Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dengan tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman.”
d)     Witheringthon dalam bukunya Educational Psychology mengemukan bahwa “ Belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.”
Dari definisi-defenisi diatas, adanya beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu bahwa:
a.       Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b.      Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman ; dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri sesorang bayi.
c.       Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan-perubahan itu harus relatif mantap;
d.      Tngkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan  suatu masalah/berfikir, keteampilan kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.[2]
B.     Proses Belajar
Proses berasal dari bahasa latin “ processus “ yang berarti bejalan ke depan. Menurut Chaplin (1972), proses adalah sesuatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan. Menurut Reber (1988), dalam psikologi belajar, proses adalah cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapai hasil-hasil tertentu.[3] Dengan kegiatan belajar atau penyesuian diri bermacam cara digunakan,beberapa macam cara penyesuaian diri yang dilakukan manusia yaitu[4]:
a.       Belajar dan Kematangan
Bahwa kematangan (maturation) adalah suatu proses pertumbuhan organ-organ.Suatu organ dalam diri makhluk hidup dikatakan telah matang, jika ia telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing-masing. Kematangan itu datang atau tiba waktunya dengan sendirinya.
Sedangkan belajar lebih membutuhkan kegiatan yang sadari, suatu aktivitas, latihan-latihan dan kosentrasi dari orang yang bersangkutan. Proses belajar terjadi karena perangsang-perangsang dari luar. Sedangkan proses kematangan terjadi dari alam.
Akan tetapi,meskipun demikian janganlah diharapkan bahwa (belajar dan kematangan) itu dalam prakteknya berhubungan erat satu sama lain, keduanya saling menyempurnakan.
b.      Belajar dan Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri meupakan juga suatu proses yang dapat merubah tingkah laku manusia.
Penyesuaian diri itu ada dua macam:
1.      Penyesuaian diri autoplastis,seseoang mengubah dirinya disesuaikan dengan keadaan lingkungan atau dunia luar,dan
2.      Penyesuaian diri alloplastis,yang bearti mengubah lingkungan/dunia luar disesuaikan dengan kebutuhan dirinya.
Kedua macam penyesuaian diri ini termasuk ke dalam proses belajar,karena daripadanya terjadi perubahan-perubahan yang kadang-kadang sangat mendalam dalam kehidupan manusia. Manusia dalam kehidupannya setiap hari selalu belajar. Akan tetapi, tidak semua belajar adalah penyesuaian diri.
c.       Belajar dan Pengalaman
Belajar dan pengalaman keduanya merupakan suatu proses yang dapat merubah sikap, tingkah laku dan pengetahuan kita. Akan tetapi, belajar dan memperoleh pengalaman adalah berbeda. Mengalami sesuatu belum tentu merupakan belajar dalam arti pedagogis, tetapi sebaliknya tiap-tiap belajar bearti juga mengalami.
Contoh pengalaman yang bukan belajar ialah:
Karena mengalami sesuatu yang menyedihkan dapat menimbulkan apatis dan putus asa pada seseorang.
Contoh lain: karena bodohnya, pengalaman-pengalamannya tidak digunakan untuk belajar, tidak digunakan untuk menambah pengalaman yang baru
d.      Belajar dan Bermain
Dalam bemain juga terjadi proses belajar. Persamaannya ialah bahwa dalam belajar dan bermain keduanya terjadi perubahan, yang dapat mengubah tingkah laku, sikap dan pengalaman.
Akan tetapi, antara keduanya terdapat perbedaan. Menurut arti katanya, bermain merupakan kegiatan yang khusus bagi anak-anak meskipun pada orang dewasa terdapat juga.Sedangkan belajar merupakan kegiatan yang umum, terdapat pada manusia sejak lahir sampai mati.
Menurut sifatanya, perbedaan antara belajar dan bermain ialah kegiatan  belajar mempunyai tujuan yang terletak pada masa depan, masa kemudian, sedangkan kegiatan bermain hanya tujukan untuk situasi diwaktu saja. Tujuan bermain (kesenangan, kepuasan) terletak di dalam situasinya, diwaktu kegiatan permainan itu berlangsung,
e.       Belajar dan Pengertian
Belajar mempunyai arti yang lebih luas daripada hanya mencapai pengertian. Ada proses belajar yang berlangsung dengan otomatis tanpa pengertian.
Sebaliknya ada pula pengertian yang tidak menimbulkan proses belajar. Dengan  mendapatkan sesuatu pengertian tertentu, belum tentu seseorang kemudian berubah tingkah lakunya. Belum tentu seseorang yang mengerti tentang sesuatu berarti menjalankan atau bersikap sesuai dengan pengertian yang telah tercapainya itu.
f.       Belajar dan Menghafal atau mengingat
Menghafal atau mengingat tidak sama dengan belajar. Hafal atau ingat akan sesuatu belum menjamin bahwa orang sudah belajar dalam arti sebenarnya. Sebab untuk mengetahui sesuatu tidak cukup hanya dengan menghafal saja, tetapi harus dengan pengertian.
Maksud belajar ialah menyediakan pengalaman-pengalaman untuk menghadap soal-soal dimasa depan. Jika pengalaman-pengalaman itu hanya merupan sesuatu yang statis, yang tidak berguna atau digunakan untuk adanya perubahan dalam tingkah laku, sikap atau pengetahuan, maka hal yang demikian tidak  tidak terjadi proses belajar.
g.      Belajar atau latihan
Persamaannya ialah bahwa belajar dan latihan keduanya dapat menyebabkan perubahan atau proses dalam tingkah laku, sikap dan pengetahuan.Akan tetapi antara keduanya terdapat pula perbedaan. Didalam terdapat pula proses belajar terjadi tanpa latihan.
Dengan uraian diatas cara-cara atau proses belajar itu berlangsung. Bahwa belajar itu tidak hanya melatih kematangan, menyesuaikan, diri, memperoleh pengalaman, pengertian atau latihan-latihan.
Dilihat dari sudut ilmu mendidik, belajar berarti perbaikan dalam tingkah laku dan kecakapaan-kecakapan (manusia), atau memperoleh kecakapan-kecakapan dan tingkah laku yang baru. Jadi, perubahan atau perbaikan yang terjadi dalam belajar terutama ialah perubahan atau perbaikan dari fungsi-fungsi psikis yang menjadi syarat dan mendasari perbaikan tngkah laku dan kecakapan-kecakapan.
C.    Teori-Teori Belajar
Berikut ini beberapa teori belajar, yang merupakan hasil penyelidikan para ahli psikologi sesuai dengan aliran psikologinya masing-masing. Teori belajar yang terkenal dalam psikologi antara lain[5] :
1.      Teori Conditioning
Teori Conditioning dibagi lagi menjadi  empat teori lagi yaitu:
a)      Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
Ivan Petrovich Pavlov dapat dikatakan sebagai pelopor dari teori Conditional. Ia adalah ahli psikologi-refleksologi dari rusia. Ia mengadakan percobaan sebagai berikut:
Seekor anjing yang telah dibedah sedemikian rupa, sehingga kelenjar ludahnya berada diluar pipinya, imasukkan kekamar yang gelap. Di kamar itu hanya ada sebuah lubang yang terletak didepan moncongnya, tempat menyodorkan makan atau menyorotkan cahaya pada waktu diadakan percobaan-percobaan. Pada moncongnya yang telah dibedah itu dipasang sebuah pipa (selang) yang dihubungkan dengan sebuah tabung diluar kamar. Dengan demikian dapat diketahui keluar tidaknya air liur dari moncong anjing itu pada waktu diadakan percobaan-percobaan. Alat-alat yang digunakan dalam percobaan-percobaan  itu adalah makanan lampu senter untuk menyorotkan bermacam-macam warna, dan sebuah bunyi-bunyian.
Dari percobaan yang dilakukan oleh Pavlov mendapatkan kesimpulan bahwa gerak-gerakan refleks itu dapat dipelajari, dapat berubah karena mendapat latihan. Sehingga dapat dibedakan dua macam refleks, yaitu refleks wajar (keluar air liur ketika melihat makanan yang lezat, dan refleks bersyarat atau refleks yang dipelajar (keluar air liur karena menerima atau beraksi terhadap warna sinar tertentu, atau terhadap suatu bunyian tertentu.
Adapun kelemahan dari Teori Classical Conditioning yaitu[6]:
1)      Proses belajar itu dapat diamati secara langsung, padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar, kecuali hanya sebagian gejalanya.
2)      Peristiwa belajar itu bersifat otomatis-mekanis, sehingga terkesan seperti kegiatan mesin dan robot, padahal seseorang yang belajar itu memiliki self direction dan self contol untuk menolak atau merespon sesuatu bila tidak ia khendaki.
3)      Proses belajar manusia yang dianalogikan dalam prilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat ada perbedaan yang tajam antara keduanya.
b)      Teori Conditining dari Guthrie
Guthrie mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan tingkah laku yang berdiri dari unit-unit. Unit-unit tingkah laku merupakan reaksi atau respons dari perangsang atau stimulus sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Jadi pada proses conditioning ini umumnya terjadi proses asosiasi antara unit unit tingkah laku satu sama yang lain. Ia juga mengunakan hubungan stimulus atau perangsang dan response untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Dijelaskan juga bahwa hubungan antara stimulus atau rangsangan dan respon cenderung hanya bersifat sementara, sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan response yang muncul bersifat lebih tetap. Ia juga mengmukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan response tersebut[7].
Guthrie mengemukan bagaimana atau metode untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, berdasarkan teori conditioning. Beberapa metode digunakan Guthri dalam mengubah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan pada hewan maupun pada manusia[8] :
1)      Metode Reaksi Berlawanan (Incompatible Response Method)
Manusia itu adalah suatu organisme yang selalu mereaksi kepada perangsang-perangsang tertentu. Jika suatu suatu reaksi terhadap perangsang-perangsang telah menjadi suatu kebiasaan, maka cara untuk mengubahnya ialah dengan menghubungkan perangsang (stimulus) dengan reaksi (respon) yang berlawan dengan reaksi buruk dihilangkannya.
2)      Metode membosankan (Exchaustion Method)
Hubungan antara asosiasi antara perangsang dan reaksi (S-R) pada tingkah laku yang buruk itu dibiarkan saja sampai lama mengalami keburukan itu sehingga menjadi bosan.
3)      Metode Mengubah Lingkungan ( Change of Enviroment Method)
Suatu metode yang dilakuakan dengan jalan memutuskan atau memisahkan hubungan antara S dan R yang buruk yang akan dihilangkannya. Yakni menghilangakan kebiasaan-kebiasaan buruk yang disebabkan oleh suatu perangsang (S) dengan mengubah perangsangannya itu sendiri.
c)      Teori Operant Connditioning (Skinner)
Seperti Pavlov, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respose. Hanya perbedannya,Skinner membedakan adanya dua macam response, yaitu:
*     Respondent response (reflexive response): response yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. Misalnya,keluar air liur setelah melihat makanan tertentu. Pada umumnya, Perangsang-perangsang yang demikian itu didahului response yang ditimbulkannya.
*     Operant response (instrumental response): yaitu respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian itu disebut reinforcing stimuli atau reinforen.
Sekarang ini teori Skinner yang sangat besar pengaruhnya, terutama di Amerika Serikat dan negara-negara pengaruhnya. Di dalam dunia pendidikan, khususnya dalam lapangan metodologi dan teknologi pengajaran, pengaruh ini sangat besar. Program-program inovatif dalam bidang pengajaran sebagian besar disusun berdasar atas teori Skinner.
d)     Teori Systematic Behavior (Hull)
Clark C. Hull mengemukan teorinya, yaitu bahwa suatu kebutuhan atau keadaan terdorong (oleh motif, tujuan, maksud, aspirasi,ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan. Dalam hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu oleh respon-respon yang dibuat individu itu.
Dua hal yang sangat penting dalam proses belajar dari Hull ialah, incentive motivation (motivasi, insentif) dan drive stimulus reduction (pengurangan stimulusvpendorong).
2.      Teori Conectionism (Thorndike)
Menurut teori trial and error (mencoba-coba dan gagal),setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baruakan melakukan tindakan tindakan yang bersifat coba-coba secara tidak terkendali. Thorndike juga berpendapat bahwa belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, dan lain-lain. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan atau tindakan[9]. Jadi proses belajar menurut Thorndike melaui proses:
*      Trial and error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan)
*      Law of effect; yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya.
Sedangkan segala tingkah laku yang berakibat tidak menyenangkan akan dihilangkan atau dilupakannya. Tingkah laku ini terjadi secara otomatis.
Thorndike melihat bahwa organisme itu (juga manusia) sebagai mekanismus; hanya bergerak atau bertindak jika ada perangsang yang mempengaruhinya. Terjadinya otomatisme dalam belajar menurut Thorndike disebabkan adanya law of effect itu.
Kelemahan dari teori ini ialah:
*     Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakan dengan hewan . Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi terlalu selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and error. Trial and error tidak berlaku bagi manusia.
*     Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka  antara stimulus dan respons. Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-latihan, atau ulangan-ulangan yang terus menerus.
*     Karena proses belajar berlangsung secara mekanistis,maka “pengertian” tidak dipandangnya sebagai suatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan “pengertian” sebagai unsur yang pokok dalam belajar.
3.      Teori Belajar menurut Psikologi Gestalt
Menurut  para ahli psikologi Gestalt, manusia itu bukanlah hanya sekedar makhluk reaksi yang hanya berbuat atau beraksi jika ada perangsang yang mempengaruhinya.
Menurut psikologi Gestalt, belajar bukan hanya sekedar merupakan proses asosiasi antara stimulus-respons yang makin lama makin kuat karena adanya latihan latihan atau ulangan-ulangan. Belajar menurut psikologi Gestalt terjadi jika ada pengertian. Pengertian muncul apabila seseorang setelah beberapa saat mencoba memahami suatu masalah, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan antara unsur-unsur yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami, dimengerti maknanya.
Belajar adalah suatu proses rentetan penemuan dengan bantuan pengalaman-pengalaman yang sudah ada. Manusia belajar  memahami dunia sekitarnya dengan jalan mengatur menyusun kembali pengalaman-penglamannya yang banyak dan beserakan menjadi suatu struktur dan kebudayaan yang berarti dan dipahami olehnya.
Dengan singkat, belajar menurut psikologi Gastalt dapat diterangkan sebagai berikut:
*      Dalam belajar faktor pemahaman atau pengertian merupakan faktor terpenting. Dengan belajar dapat memahami atau mengerti hubungan antara pengetahuan dan pengalaman.
*      Dalam belajar, pribadi atau organisme memegang peranan yang paling sentral.
Teori-teori belajar perlu diingatkan bahwa dalam menilai atau menyimpulkan pendapat-pendapat dari teori belajar jangan hendaknya kita memandang sebagai suatu yang saling bertentangan dan mengangap yang salah satu itulah yang benar dan yang lain salah. Perbedaan-perbedaan yang terdapat antara berbagai teori belajar itu disebabkan karena perbedaan jenis-jenis belajar yang diselidiki. Belajar yang ada berahap rendah ada yang bertahap tinggi. Yang terpenting sebagai pendidik ialah mengambil manfaat dari masing-masing dari teori teori tersebut, dan materi yang dipelajari dan yang diajarkan.


KESIMPULAN

Belajar adalah sesuatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyaakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.
Proses berasal dari bahasa latin “ processus “ yang berarti bejalan ke depan. Menurut Chaplin, proses adalah sesuatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan. Menurut Reber  dalam psikologi belajar, proses adalah cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapai hasil-hasil tertentu.macam macam proses belajar:
a)      Belajar dan Kematangan
b)      Belajar dan Penyesuaian Diri
c)      Belajar dan Pengalaman
d)     Belajar dan Bermain
e)      Belajar dan Pengertian
f)       Belajar dan Menghafal atau mengingat
g)      Belajar atau latihan
Teori belajar yang terkenal dalam psikologi:
1.      Teori Conditioning
·         Teori Conditioning dibagi lagi menjadi  empat teori lagi yaitu:
·         Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
·         Teori Conditining dari Guthrie
·         Teori Operant Connditioning (Skinner)
·         Teori Systematic Behavior (Hull)
2.      Teori Conectionism (Thorndike)
3.      Teori Belajar menurut Psikologi Gestalt









DAFTAR PUSTAKA

*      Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Kencana, Jakarta:2004
*      Drs. M. Ngalim Purwanto, psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung:1984
*      DR. C. Asri Budiningsih, Belajar Dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta:2008
*      Muhibbin Syah, M. Ed, Psikologi pendidikan Dengan Pendekatan Baru, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung:2007


[1] Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Kencana, Jakarta:2004, Hal. 209
[2] Drs. M. Ngalim Purwanto, psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung:1984, Hal. 84-85
[3] Muhibbin Syah, M. Ed, Psikologi pendidikan Dengan Pendekatan Baru, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung:2007, Hal. 113
[4] Drs. M. Ngalim Purwanto, Op.Cit.,Hal. 86-88
[5]Ibid. Hal 89
[6] Muhibbin Syah, M. Ed, Psikologi pendidikan Dengan Pendekatan Baru, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung:2007, Hal: 219
[7] DR. C. Asri Budiningsih, Belajar Dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta:2008, Hal. 23
[8] Drs. M. Ngalim Purwanto, psikologi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung:1984, Hal .94-95
[9] DR. C. Asri Budiningsih, Op. Cit, Hal:21

Poskan Komentar

Ditulis Oleh : Jayantoni ~ JAYMIND MY DREAMS

Artikel dalam blog ini diposting oleh jayantoni. Terimakasih atas kunjungan sobat serta kesediaan Anda membaca artikel ini.Tinggalkanlah komentar baik itu kritik ataupun saran karena komentar anda sangat berarti bagi penulis demi perkembangan blog ini.

Kalkulator CINTA

Yang Mau Cek Kekuatan Cinta, Silahkan Cek Cinta Pasangan Anda Dibawah Hi..hi..!!